Actions

Work Header

mirrors

Summary:

it's like you're my mirror, my mirror staring back at me.

Notes:

hyesung as ashley, eric as kristian
chilhyun as ciel, junjin as gavin
jaewon as andi, tony as cio
jihoon as dimas, woohyuk as jason
heejun as farhan, minwoo as mahesa
dongwan as budi, andy as rendi

Work Text:

ashley pusing banget malam ini.

 

dua hari lalu, ciel ajak dia buat liburan di puncak. traktiran katanya, karena abangnya berhasil lulus skripsi tepat waktu.

 

"andi bakal ikut?"

 

dahi ciel mengkerut. "andi kan adeknya bang jason ya jelas bakal ikut?"

 

"skip." sahut ashley begitu tau.

 

"kenapa deh tiba tiba nanyain andi?"

 

ashley mendecih. tangannya raba saku jaketnya, cari rokok. mulutnya kerasa asem keingat pertengkarannya sama kristian, pacarnya. dengan gerakan terlatih dia nyalakan pemantiknya dan hirup nikotin itu dalam dalam.

 

"lo percaya nggak kalo ian cemburu sama andi?"

 

ciel refleks ketawa. "cemburu? sama andi?!"

 

"goblok kan? gue nebeng sama andi karena belum top-up gopay dan gak bawa cash, tapi dari tiga hari lalu ian diemin gue. gue aja baru tau dia cemburu karena gavin cerita."

 

gelengkan kepalanya, ciel ambil batang rokok itu dari bibir ashley dan ikut menghirup rokoknya.

 

"pacar lo aneh." ucap ciel.

 

"emang."

 

"cocok sama lu, sama sama freak."

 

"anjing lo." maki ashley.

 

ciel ketawa keras. dia balikkan batang rokok itu ke sela bibir ashley sebelum berkata, "puncak dingin. siapa tau bisa jadi ajang lo baikan sama kristian."

 

"nggak semua masalah bisa diselesaikan dengan ngentot, ciel." ashley muter matanya.

 

"well kalau gue inget masalah lo sama ian hampir semuanya diselesaikan di ranjang kan?"

 

"nggak sekarang. dia yang salah, kalo dia pacar yang baik seharusnya dia bilang makasih ke andi bukannya malah marah ke gue."

 

"siapa sih yang paham jalan pikiran kristian?" tanya ciel.

 

"nggak ada yang paham." sahut ashley.

 

"termasuk lo?"

 

"apalagi gue, ciel."

 

seharusnya ashley nolak. seharusnya dia bilang enggak ke ciel tapi sejak kapan, dia bisa nolak sahabatnya itu? berakhir dia siapkan tasnya untuk staycation 3 hari di puncak, semua ditanggung oleh cio.

 

kristian tentu aja diajak. cio deket sama pacarnya itu dan kelompok mereka memang sering liburan dan nongkrong bareng, jadi nggak heran ian ikut. tapi ashley ngerasa sesak. sesak karena ian nggak mau natap matanya sama sekali, pura pura sibuk bantu jason dan gavin menyalakan api barbeque daripada ngomong. komunikasi sama pacarnya.

 

komunikasi. ashley rasa, itu salah satu hal yang susah di hubungan mereka. dia rasa setiap kali dia berusaha komunikasi sama kristian mereka berakhir bertengkar, diem dieman selama seminggu dengan ashley venting ke ciel dan dimas, sementara ian komplain ke siapapun kecuali ashley. pengen rasanya dia teriak dan minta kristian untuk lihat dia, ngomong ke dia tapi ashley nggak lakukan.

 

dia nggak semenyedihkan itu.

 

"okay gentlemen." cio, abang dari ciel sebagai pemilik acara berbicara. "gimana nih, pestanya."

 

sahutan apresiasi terdengar di telinga ashley. kalau ashley boleh beropini, pestanya nggak buruk. sama sekali. mungkin karena keluarga cio dan ciel punya banyak uang dan orangtua mereka hamburkan ke putra mereka, bikin cio dan ciel sama sama loyal. ashley ngerasa rileks, perut penuh dengan barbeque dan soju tipis tipis.

 

"tod nggak sih." jason di sebelah cio, rangkul pacarnya itu dan senyum santai.

 

"dare nya kagak ada sampe bugil ya." protes dimas.

 

"oke nggak boleh bugil kecuali bang dimas." ujar gavin.

 

"gak gitu anjing."

 

"ciuman fair game kan?" tanya farhan.

 

"dare nya nggak boleh diri lo sendiri ciuman sama pacar lo loh bang." sela rendi.

 

"enggak lah." farhan kedipkan matanya.

 

entah kenapa ashley ngerasa game ini berbahaya.

 

"oke berarti semuanya ikut ya?" tanya cio.

 

"gas." sahut budi.

 

dan game nya pun dimulai. ashley lihat dengan ujung matanya gavin dapet dare pangku ciel, mahesa jawab siapa lagi cewek yang deket sama dia, sampai kemudian botol itu ngarah ke arahnya.

 

"oh ashley yang dapet sekarang." cio senyum manis. "truth or dare ash?"

 

mata ashley terarah ke kristian tapi sekali lagi, pacarnya itu malah kelihatan sengaja jawab pertanyaan rendi tentang sesuatu. kesel, ashley bilang,

 

"dare."

 

"siapa yang ngasih dare?"

 

"gue gue!" suara keras dimas membahana.

 

"oke dim apa dare nya awas aja sampe bugil—"

 

"cium andi. cipokan, bukan cuma kecup."

 

ashley ngerasa pusing banget sekarang. matanya natap ke arah dimas kemudian ke kristian yang sekarang, akhirnya natap dia.

 

"kenapa nih? gak terima?" goda dimas.

 

ashley hembuskan nafas. dia tatap andi yang kelihatan santai dan clueless, nggak ngerasa ada bahaya yang mengancam. sekali lagi ashley bingung kenapa kristian harus cemburu ke andi.

 

"boleh ndi?" tanya ashley.

 

"silahkan." kata andi.

 

ashley pindah tempat, berlutut biar tubuhnya lebih tinggi daripada andi. dia bisa rasakan, tatapan ian yang rasanya kayak nembus tubuhnya tapi ashley nggak peduli. tangannya pegang kedua sisi muka andi sebelum dia cium, dan andi balas.

 

suara suitan temen temennya kedengeran, tapi yang ashley bisa rasakan cuma tatapan kristian. tatapan yang cerminkan inferno yang membara di hati pacarnya itu. ashley lepas pegangan tangannya dari muka andi sebelum bilang, "puas?"

 

kata itu ashley tunjukkan kepada kristian. buat memprovokasi dia.

 

tanpa kata, kristian berdiri dan pergi. suasana di ruang tamu mendadak hening, diikuti oleh manusia yang garuk rambut mereka canggung. ashley buru-buru berdiri dan berkata, "tunggu."

 

•••

 

puncak di malam hari dingin, banget. ashley yang keluar dari villa cuma pakai kardigan menggigil selagi kakinya lari kecil nyoba ngejar kristian.

 

"ian." panggil ashley.

 

ian nggak nyahut. pundak lebar pacarnya itu kelihatan tegang, ashley tau dia marah.

 

"ian stop."

 

ian sekali lagi gak peduli dengan keberadaan ashley. berlari lebih kencang lagi, ashley ngerasa amarahnya memuncak. apa mau kristian sebenarnya?

 

"mau lo tuh apa sih ian?" teriak ashley frustasi.

 

lo, bukan kamu.

 

"lo nggak suka gue nebeng sama andi, tapi bukannya ngomong sendiri lo malah bilang ke gavin. pacar lo tuh sebenernya gue atau gavin sih anjing?" maki ashley kesal.

 

kristian diam, nggak menjauh tapi juga nggak balik badan.

 

"gue gak paham sama pikiran lo. lo cemburu gue deket sama cowok lain, tapi bukannya bilang lo malah diemin gue. lo mau gue sadar apa salah gue tapi negur aja gak pernah, yang ada lo marah sama gue lagi."

 

"kita udah 3 tahun pacaran ian. lo tau gue, tapi gue kayak gak tau lo gimana."

 

ashley ngerasa kayak orang tolol sekarang. dia mau teriak, mukul badan kristian yang bajingan.

 

"ngomong anjing, lo manusia apa anjing sih?"

 

"sehari aja nggak ngomong kasar, nggak bisa lo?"

 

suara kristian, pertama yang dia denger setelah tiga hari diiringi oleh nada sinis.

 

"lo yang bikin gue ngomong kasar bangsat. stop jadi pecundang dan lihat gue kristian."

 

kristian pada akhirnya, balik badan dan jalan mendekat ke arah ashley. ashley tetep di tempat, nolak buat takut sama pacarnya. tinggi mereka hampir sama tapi badan kristian jauh lebih berotot dari dia, bukan pertama kalinya pipi ashley bakal merah karena tangan kristian, begitupula sebaliknya.

 

they are so fucked up.

 

mereka hadap hadapan sekarang. di bawah lampu remang remang kristian kelihatan luar biasa ganteng dan menakutkan. tatapan matanya kayak bakar diri ashley.

 

"lo bingung kenapa gue marah lo boncengan sama andi?" tanya kristian.

 

ashley anggukkan kepalanya tanpa kata.

 

"gue nggak marah karena itu andi, ash."

 

ashley angkat alisnya.

 

"gue marah karena dibandingkan hubungin gue, lo malah minta tebengan ke cowok lain."

 

sekarang ashley yang bingung. memangnya perkara tebengan seserius itu? andi straight, mau sebanyak apapun ashley nebeng ke dia juga andi nggak bakal suka.

 

"gue orang dewasa ian, gue bisa mutusin mana yang lebih efisien. kalau gue nunggu lo gue bisa telat ke kampus."

 

"lo nggak suka harus bersandar ke gue?" tanya kristian, mata besarnya natap ke ashley dengan ekspresi yang nggak bisa dibaca.

 

ashley hela nafasnya. dia beneran nggak paham apa jalan pikiran pacarnya itu.

 

"gue capek ian. jujur gue muak sama lo." kata ashley.

 

mata kristian menyipit.

 

"gue muak sama sifat lo yang non-konfrontasional. gue capek harus tanya ke gavin apa kali ini kesalahan gue. pengen rasanya gue akhirin aja semuanya."

 

pasrah, itulah yang ashley rasakan sekarang.

 

"lo.... mau putus sama gue?"

 

"iya." suara ashley geter.

 

ada keheningan sesaat sebelum suara ringan kristian berkata,

 

"enggak."

 

"apa maksudnya enggak?"

 

"gue nggak mau putus." ucap kristian.

 

"well fuck you, hubungan kita selesai. makasih 3 tahunnya bajingan." ashley kebawa emosi.

 

ashley balikin badannya. dia ngerasa tolol banget ngejar kristian tapi pada akhirnya pacarnya itu tetep egois. baru aja tiga langkah ashley jalankan sebelum badannya dipeluk kencang.

 

"a—anjing kristian lepas!"

 

kristian gak mendengarkan teriakannya. ashley berusaha gerakkan badannya, tapi nihil. dia nggak bisa kalahkan kekuatan kristian. ashley ngerasa badannya dibalik sebelum bibir kristian nyerang miliknya.

 

ashley berusaha tutup bibirnya tapi kristian tanpa ampun gigit, bikin ashley melenguh kesakitan. kristian cium dia kayak orang kelaparan, ashley benci.

 

suara tamparan kedengar keras di jalanan sepi itu waktu ashley akhirnya tampar pipi kristian. dia usap bibirnya pakai tangan satunya.

 

"brengsek." maki ashley. "lo brengsek kristian. setiap kali gue minta lo buat jadi dewasa lo bungkam gue pake ciuman, nggak bisa jawab dan cari pembelaan lo?"

 

"gue benci." ucap kristian. "gue benci bibir lo yang nggak bisa berhenti ngomong. shut the fuck up for one day ashley."

 

"bikin gue bungkam kalo gitu."

 

ashley udah tau apa yang bakal terjadi selanjutnya. bukannya ini, apa yang terjadi tiap bulan di hubungan dia sama kristian? badannya bergerak otomatis, dituntun kristian buat balik ke villa dan ke kamar mereka.

 

•••

 

pintu kamar baru aja ketutup waktu pinggang ashley ditarik, bibirnya dicium tanpa ampun oleh kristian. tangan ashley otomatis taruh di rambut pendek pacarnya itu, tarik kesal selagi lidahnya masuk ke dalam mulut kristian.

 

tangan kuat kristian dengan gampang lepas kardigan hitam ashley, selagi dia dekatkan badannya ke yang lebih muda. mulai ashley lepas kancing kemeja ian, selagi bibirnya gigit yang lain kencang.

 

didorong, badan ashley buat tidur di kasur. dia nggak diam aja tentunya, ashley berusaha bangkit buat nguasai kristian dan dibiarkan, buat sekarang oleh kristian.

 

ashley mau ngutuk dirinya sendiri. kenapa gampang banget buat dia nyerahin badannya untuk ekstasi sesaat bersetubuh sama kristian? seharusnya dia kabur, ngungsi di kamar ciel dan farhan atau gabung sama dimas dan andi di ruang tamu tapi lagi lagi dia berakhir di pelukan kristian.

 

tangan kristian pegang lehernya, selagi bibir pacarnya itu kecup. ninggalin bekas kemerahan yang suka kristian pamerin ke temen mereka. stempel, kepemilikan dirinya terhadap ashley. nggak mau kalah, ashley cakar pundak lebar kristian dan ninggalin bekas panjang tipis itu.

 

"ada kucing nyakar gue." goda kristian.

 

"diem—ah." balas ashley.

 

bibir kristian turun, kecup dan gigitin kecil puting ashley. ashley rasa foreplay mereka gak bakal lama karena emosi mereka sama sama muncak, nggak lama kemudian kristian hilang kesabaran dan tarik celana ashley, biarin tubuh telanjang pacarnya itu kelihatan.

 

"buka kaki." perintah kristian.

 

"gak."

 

kristian cuma ndecih selagi dia buka nakas dan ambil pelumas—punya mereka dan tuang ke tangan kanannya. pakai yang lain, dia taruh kaki panjang ashley di pundak selagi satu jarinya masuk.

 

"ah!"

 

rasanya familiar, waktu jari kristian masuk ke dalem dan mulai gerak buat lebarin lubangnya. ashley angkat badannya buat gigit pundak kristian, mau bikin pacarnya itu berdarah karena dia. satu, dua, tiga, sampai akhirnya empat jari ada di dalem ashley.

 

"ian ah lagi." pinta ashley waktu ian neken prostatnya keras dan teratur.

 

tapi sejak kapan kristian nurutin apa yang ashley mau? pada akhirnya dia lepas jarinya, laburkan pelumas ke penisnya sebelum dia masuk ke ashley dalam satu hentakan.

 

"fuck!"

 

teriakan ashley kedengeran kencang. rasanya sakit, kristian besar dan tanpa aba aba masuk ke dalem dirinya. ashley ngerasain matanya berair, reaksi fisiologis.

 

"brengsek lo, brengsek." maki ashley.

 

"memang." sahut kristian.

 

dengan tangan nahan paha ashley buat tetep kebuka, kristian gerak. pelan awalnya, tapi temponya makin cepet. seakan dia dikejar sesuatu, seakan dia mau ngasih kesakitan lebih banyak ke ashley dalam gerakannya. ashley ngerasa enak dan sakit nyatu, dia nggak tau mana awal dan akhirnya.

 

tangannya cakup muka kristian di atasnya, dengan terengah ashley bilang,

 

"ian lebih pelan please? sakit."

 

"katanya lo mau gue bungkam mulut lo?" tanya kristian.

 

"nggak kayak gini ah—cium gue please."

 

bibir kristian, lebih lembut kali ini tutup semua komplain yang mau ashley utarakan. gerakannya tetap kasar, ashley ngerasa pacarnya berniat buat hancurin lubangnya dengan gerakannya tapi ini lebih baik. dia ngerasa mata kristian ke arahnya, ngasih dia cinta.

 

tangan kristian nggak butuh kerja banyak. dua gesekan tangan besarnya di penis ashley bikin yang lebih muda klimaks, selagi dia ngelakuin hal yang sama di dalem ashley. ashley ambil nafas banyak banyak, ngerasa oksigen di kamar ini habis karena kristian. matanya berat banget, capek mental dan badan.

 

"tidur, gue bersihin." samar samar kedengeran suara kristian.

 

ashley cuma anggukkan kepalanya.

 

•••

 

ashley ngerasa badannya kayak remuk waktu akhirnya dia bangun. dari jauh dia bisa dengerin suara rame temen temennya di bawah, mungkin lagi masak atau berenang dia gak tau. ashley kucek matanya, cari dimana kristian. badannya bersih, ian tepatin janji.

 

"kamu mau makan apa?" tanya kristian lembut, sambil tangannya ngelus rambut halus ashley.

 

kamu.

 

"ciel masak apa pagi ini?" bales ashley.

 

kristian ketawa. "kamu kok tau ciel yang masak."

 

"kalo acara gini kan dia rewel mau masak karena gak mau makan makanan gak enak."

 

"kan kamu sayang yang masak makanan gak enak itu."

 

mata ashley menyipit sebelum dia lepas tangan kristian dari rambutnya. dia bisa lihat bekas kemerahan yang ada di bagian bawah badannya.

 

"ciel masak sup daging sapi, nasi, cah kangkung, sama lauk penyetan tadi aku lihat." jelas kristian.

 

"ambilin aku semuanya."

 

"okay."

 

kristian kecup dahi ashley sebelum bergerak buat turun dan ambilkan pacarnya itu sarapan. sebelum kristian tutup pintu, ashley berucap.

 

"ian?"

 

"iya?"

 

"aku sayang kamu."

 

senyum kristian kelihatan waktu dia balik badan, "aku juga sama, ashley."

 

fin.